Belajar Coding

Senin, 21 Maret 2016

print this page
send email
how-does-computer-programming-work
Belajar Coding

Saya tidak pernah bersumpah serapah sesering ini sepanjang hidup saya. Saya memandang layar komputer berjam-jam, mencoba memperbaiki sebuahbug di dalam aplikasi saya. Si sumber masalah seolah menghindari saya, mendorong saya ke dalam siklus kecemasan, pembencian diri sendiri, dan melampiaskan kemarahan pada keyboard.
Penyebabnya ternyata adalah satu typo dalam sebuah nama file.
Ada juga masa ketika saya merasa bangga. Seperti ketika saya menulis script pertama saya dan menjalankannya dengan sukses. Atau ketika saya memasukkan aplikasi pertama saya ke dalam server dengan tulisan “hello world”. Atau ketika saya menulis crawler pertama kali untuk mengisi sebuah database. Saya merasa seperti tuhan yang memerintahkan antek-antek dalam bentuk kode untuk melaksanakan perintah saya.
Programming adalah sebuah candu yang membuat saya kembali lagi terlepas dari kepahitan pengalaman pertama yang saya dapatkan. Dan hal tersebut merangkum pengalaman saya selama dua tahun belajar coding.

Kita menertawakan para engineer

Seperti kebanyakan ahli teknologi wannabe, saya terpesona dengan dunia Silicon Valley yang bersinar dan dengan keahlian yang dimiliki para geek. Padahal, dulu saya adalah jenis orang yang tidak terlalu menganggap penting para engineer. Saya berkuliah di sebuah universitas teknik, namun mengambil jurusan komunikasi yang didominasi oleh wanita. Kami meremehkan para engineer karena mereka tidak memiliki citarasa fashion atau kemampuan sosial, merasa canggung ketika berada di tengah-tengah wanita, dan memiliki tata bahasa yang buruk. Seseorang pernah mengatakan bahwa saya terlihat seperti seorang engineer – dan saya merasa malu.
Tentu saja, hal ini terdengar bodoh sekarang. Namun, kala itu saya sedang kuliah dan belum melihat seperti apa dunia nyata itu. “Silicon Valley” tidak berarti apa-apa selain sebuah tempat nan jauh di sana.
Namun satu hal tentang saya yang Anda tidak ketahui – saya dulu merupakan presiden klub IT di SMP. Saya belajar HTML dan flash, menghabiskan waktu senggang saya bermain Sim City 3000, dan menciptakan sebuah website tentang game tersebut. Saya selalu mempunyai sisi geek di dalam diri saya.
Tidak lama bagi saya untuk kembali merangkul sisi tersebut. Film The Social Network rilis pada tahun terakhir universitas saya. Setelah lulus, saya bergabung dengan ranah startup Singapura yang masih muda sebagai seorang wartawan teknologi.
the-social-network-720x478
Film The Social Network membuat industri teknologi terlihat keren
Saya seolah dikelilingi dengan tren bahwa semua orang harus belajar coding. Menjadi programmer merupakan sesuatu yang keren, dan saya berbohong jika tidak pernah berkhayal mengenai hal tersebut.
Keadaan telah berputar balik. Banyak teman kuliah saya di sekolah komunikasi akhirnya bergabung dengan perusahaan internet atau menjadi bagian public relations untuk perusahaan teknologi. Teknologi yang dibuat para geek yang dulu kami tertawakan sedang mengubah dunia jurnalisme.
Dan gerakan belajar coding ini semakin meriah karena sangat mudah untuk mulai mempelajarinya. Pada saat itu, gerakan open source telah berkembang sebegitu rupa hingga siapapun dapat dengan mudah mencari bantuan, sumber daya, dan dokumentasi lewat Google.
Gerakan belajar coding ini telah berkembang menjadi sebuah industri, dan masih ada banyak ruang di pasar, berhubung suplai engineer yang tidak banyak.
Dan sekarang kita ada di tahun 2015. Jika Anda ingin belajar programming sebagai sebuah resolusi tahun baru, maka artikel ini cocok bagi Anda. Saya berbagi sejarah pribadi ini bukan karena narsis (well, mungkin sedikit), namun untuk menggambarkan kenyataan yang ada:

Masa lalu Anda menentukan cara belajar coding

Saya mulai belajar programming di akhir tahun 2012 – lebih dari satu tahun setelah memulai pekerjaan pertama saya. Hal ini menempatkan saya dalam sebuah posisi yang sangat tidak menguntungkan jika saya ingin menjadikan hal ini sebagai karir.
Saya akan bersaing langsung dengan lulusan universitas baru yang mungkin sudah mulai belajar programming sejak mereka berumur 12 tahun. Ekspektasi gaji mereka lebih rendah dan mereka mungkin memiliki komitmen hubungan yang tidak terlalu serius. Saya harus mengubah tujuan hidup saya, menunda target finansial, dan mengejar sebuah karir alternatif sembari menghadapi pengorbanan-pengorbanan kecil. Bahkan, kecil kemungkinan saya akan terus menekuni bidang ini.
Semua berujung pada hal ini: saya sudah menginvestasikan bertahun-tahun hidup saya di dalam karir industri media yang sedang berubah namun tetap sehat. Saya menikmati apa yang saya lakukan dan tidak sedang mengalami krisis 25 tahunan. Saya tidak memiliki kemampuan finansial maupun insentif untuk masuk sepenuhnya ke dalam bidang baru ini.
Jadi inilah yang terjadi: Saya belajar coding di waktu senggang dan memastikan bahwa hobi saya itu tidak mengganggu pekerjaan utama saya. Memang sulit, tapi satu-satunya cara adalah mengorbankan waktu luang saya.

Sebelum berkomitmen, pahami tujuan utama Anda

Belajar coding mungkin akan sepenuhnya tidak berguna dalam membantu Anda mencapai tujuan. Atau malah mungkin terbukti sangat diperlukan.
Anda mungkin seorang siswa yang hanya memikirkan pekerjaan sekolah atau kehidupan sosial (dan ini bukan apa-apa dibandingkan memiliki sebuah pekerjaan full-time). Codingdapat membuka lebih banyak jalan bagi Anda untuk, katakanlah, menjadi miliarder ketika Anda berusia 25 tahun.
Atau mungkin Anda seorang profesional muda yang patah semangat dan sedang mencari sesuatu yang berbeda. Anda sudah mengumpulkan cukup banyak tabungan untuk merambah hal lain. Programming bisa saja menjadi tiket Anda menuju karir yang lebih menjanjikan.
Tentu saja, programming mungkin bukan untuk para CEO perusahaan besar dengan karyawan dan keluarga untuk dinafkahi. Namun jika Anda seorang eksekutif muda yang ingin memulai sebuah perusahaan teknologi dalam jangka waktu satu tahun, belajar programming akan sangat berguna bagi Anda agar mampu bekerja dengan lancar dengan para developer atau menciptakan produk sederhana sendiri.
Anda mungkin akan menemukan bahwa belajar coding merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan atau tidak ada gunanya. Itu hal yang biasa. Atau mungkin Anda ingin belajar dengan alasan sederhana seperti ingin masuk ke dalam kelompok yang keren (banyak sekali komedian yang mulai bergelut di bidang komedi karena hal itu), atau mungkin sekadar mencari tahu apakah Anda akan tertarik dengan dunia coding. Atau Anda ingin meningkatkan situasi finansial Anda.
Semua alasan di atas berlaku bagi saya:
TujuanHasil
Ya, saya ingin menjadi lebih keren.Saya mengganggap diri saya keren, berdasarkan fakta bahwa saya bisa menciptakan sebuah aplikasi menggunakan Ruby on Rails dan memanfaatkan berbagai API, sambil tetap menjaga pekerjaan utama saya sebagai seorang penulis dan editor. Saya juga tetap bertahan ketika banyak orang menyerah, namun saya membuat banyak sekali pengorbanan. Terlepas dari itu, masih banyak level kehebatan yang belum saya capai.
Saya ingin menantang diri sendiri secara intelektual.Saya merasa sangat tertantang.
Saya ingin mencari tahu apakah mengembangkan sebuah website dapat menjadi karir alternatif.Mungkin tidak. Seperti karir lainnya, programming memerlukan tugas tidak menyenangkan seperti pemindahan server, menangani penyusup, dan lain sebagainya.
Saya ingin menggabungkan minat saya dalam teknologi dan media.Tercapai.
Saya ingin menggunakan programming untuk membuat diri saya sendiri lebih produktif.Mungkin tercapai.
Tentu saja, penilaian di atas berdasarkan pendapat pribadi. Tapi apabila Anda setuju dengan penilaian tersebut, terus baca untuk mengetahui apa yang membuat saya terus bertahan:

Memulai proyek demi proyek

peaks-720x481
Menetapkan tujuan satu gunung demi gunung lainnya akan memberi Anda dorongan yang dibutuhkan
Mari kita berbicara jujur, coding tidaklah menyenangkan. Tentu saja, menciptakan kode-kode elegan dan memperbaiki bug terasa memuaskan, namun semuanya akan menjadi sia-sia jika tidak ada produk akhir, seperti nasi kari tanpa kari.
Buat perjalanan programming Anda berkelanjutan dengan menatanya sebagai jajaran gunung yang harus didaki. Kerjakan proyek demi proyek, masing-masing akan membuat Anda belajar hal baru, memperbarui pengetahuan lama Anda, dan membawa Anda semakin dekat dengan tujuan Anda. Berikut proyek-proyek yang saya kerjakan, dalam urutan kronologis:
Sebuah game teks. Lihat Learn Python the Hard Way.
Sebuah script Ruby yang menghitung tag dalam blog teknologi untuk melihat topik apa yang populer.
Sebuah script Ruby yang mencari informasi di dalam website dan menyalin informasi tersebut ke dalam database lain.
Tabel dan bagan yang dapat disortir. Saya menyambungkan sebuah aplikasi Ruby on Rails dengan D3.js, sebuah library visualisasi berbasis javascript.
Aplikasi Rails yang menyambungkan WordPress dan API Google Analytics untuk menghasilkan konten secara terprogram.
Aplikasi Rails yang diciptakan menggunakan API Buffer, ini memungkinkan saya untuk mem-posting ulang konten populer di media sosial.
Aplikasi Rails yang mengisi tautan dalam sebuah database.
Statsy, aplikasi Rails yang bertindak sebagai database fakta yang memiliki fungsi pencarian dan sebuah pembuat bagan berbasis Google Charts.
Setiap proyek yang sukses menjadi lebih rumit. Saya mulai dengan menciptakan script, yang merupakan program yang ‘hidup’ di dalam lingkungan bahasa pemrograman desktop Anda. Lalu saya belajar Rails, sebuah framework untuk menciptakan aplikasi web yang dibuat di atas bahasa pemrograman Ruby. Perjalanan ini menjadi lebih menyenangkan saat saya coba mencari proyek yang berarti untuk dikerjakan. Seperti yang ditulis oleh salah seorang programmer:
Programming seharusnya hanya diperkenalkan sebagai sebuah cara untuk menyelesaikan suatu masalah nyata atau menyelesaikannya dengan cepat. Meretas sesuatu yang sudah kamu pahami. Lalu ada tujuan dan motivasi untuk belajar. Maka programming menjadi lebih bermakna. Sangat sedih [bagi saya] untuk mengetahui bahwa kontak pertama orang dengan dunia programming adalah sebuah kelas tata bahasa yang membosankan dimana mereka harus duduk belajar, seperti hal lainnya yang mereka lakukan di sekolah.

Tekun dan rayakan kemenangan kecil

Gambaran yang saya jabarkan di awal menunjukkan bagaimana sulitnya memulai hingga berada di posisi saya saat ini. Namun hal tersebut berlaku jika Anda memang ingin membangun sebuah aplikasi web yang berfungsi. Bukit yang ada di awal tidak terlalu sulit untuk didaki – mudah mempelajari hal dasar berkat website seperti Codecademy. Khususnya Ruby memiliki banyak sekali sumber untuk membantu Anda belajar.
Namun berdasarkan pengalaman saya, semua menjadi lebih sulit ketika Anda mencoba membuat sebuah aplikasi web yang berjalan sepenuhnya. Mengapa? Karena banyak sekali hal yang harus dipelajari. Kecuali Anda belajar Node.js, Anda tidak sedang belajar satu bahasa pemrograman, namun dua: bahasa pemrograman server (hal-hal yang terjadi di dalam server) dan javascript untuk sisi pengguna (sihir yang terjadi di dalam browser Anda)
Sebagai tambahan, Anda harus menggunakan bahasa markup seperti HTML dan CSS, yang mengendalikan tampilan sebuah website dan bagaimana perasaan pengguna saat memakai website tersebut, serta mendirikan dan menjaga agar server selalu berjalan (saya merekomendasikan para pemula untuk menggunakan Heroku). Bukan hanya itu. Setiap bahasa pemrograman memiliki banyak sekali library untuk dikuasai dan masing-masing API memiliki dokumentasinya sendiri. Anda juga harus belajar bagaimana sebuah database bekerja. Dan jangan sampai saya memulai tentang Git dan test-driven development.
Saya mengetahui perasaan itu. Saya juga kewalahan ketika saya benar-benar melihat tantangan yang ada di hadapan saya. Namun hal itu tidak menghentikan saya. Triknya adalah dengan memulai dari hal yang kecil, dan mengumpulkan kepercayaan diri untuk menangani proyek yang lebih besar. Seiring berjalannya waktu, Anda akan belajar lebih cepat. Anda akan kaget seberapa banyak yang bisa Anda serap.
Bagian yang paling membuat frustrasi dari programming adalah ketika aplikasi Anda ngadatdan Anda kebingungan dalam mencari apa yang salah. Karena sebuah aplikasi sepenuhnya dibuat dari bagian saling menyambung dalam kode open source yang diciptakan oleh orang lain, sumber dari bug bisa terdapat di mana saja. Belajar melakukan debug secara produktif merupakan keterampilan yang diremehkan.
Karena itulah penting bagi Anda untuk merayakan kemenangan kecil. Anggap versi pertama aplikasi Anda sebagai penghargaan tertinggi – sebuah jamuan bagi mental Anda. Untuk mencapai kesana, Anda perlu mengumpulkan kemenangan-kemenangan kecil sepanjang perjalanan untuk membantu Anda melewati momen terendah ketika Anda merasa ingin berhenti belajar programming. Ingat perkataan saya, akan banyak sekali waktu dimana Anda merasa ingin menyerah.
Jika hal tersebut terjadi, ambil istirahat mental. Kunjungi masalah tersebut nanti. Pikirkan secara seksama kemungkinan sumber kesalahan. Minta bantuan orang lain. Dan ketika Anda telah memperbaiki bug yang ada, adakan pesta kecil. Lalu ambil nafas panjang dan mulai lagi.

Minta bantuan teman

Belajar coding tidak harus merupakan sebuah aktivitas yang dilakukan sendirian. Berkonsultasilah dengan teman-teman Anda yang penuh pengetahuan. Mereka akan mengajarkan sesuatu yang tidak akan Anda temukan di Google. Bergabung dengan grup di kota Anda yang relevan dengan apa yang sedang pelajari dan cari bantuan di sana. Stack Overflow adalah tempat yang sangat bagus untuk bertanya, dan Anda akan menemukan bahwa banyak orang yang mengalami hal serupa dan sudah menerima jawaban. Anda dapat berkonsultasi dengan para programmer mumpuni dengan banderol harga di platform online seperti Airpair (saya belum pernah mencoba ini).
Coding di dalam grup merupakan sesuatu yang menguntungkan. Jika tujuan Anda adalah bergabung dalam tim pengembangan, anggap hal ini sebagai latihan untuk menjadi seorangcoder profesional. Setiap tim akan mengembangkan protocol, workflow, dan toolset masing-masing, yang biasanya ditentukan oleh programmer paling senior di dalam kumpulan tersebut. Mulai dengan mengerjakan proyek sampingan bersama teman-teman. Jika Anda merupakan bagian dari sebuah startup dengan tim pengembangan yang mempunyai kesabaran untuk mengajar para pemula, tawarkan melakukan coding secara sukarela bagi mereka.

Menang dengan Ruby on Rails

Ketika belajar coding, Anda harus menentukan bahasa pemrograman mana yang ingin Anda pelajari. Video ini dapat membantu Anda:
Bagi saya, tidak ada alasan ilmiah di balik keputusan yang saya ambil. Saya awalnya memilih Python karena sering disebut sebagai bahasa ideal bagi para pemula. Lalu, saya beralih ke Ruby karena kolega saya sudah terbiasa dengan bahasa ini. Hal tersebut merupakan sebuah keputusan sosial (lihat poin sebelumnya). Secara sekilas, hal itu sangat masuk akal.
Terlepas dari dukungan yang baik, Ruby memiliki salah satu syntax yang paling bersih, membuatnya mudah untuk dibaca dan dipelajari. Sementara itu, Rails memiliki banyak sekali plugin yang memberi sebuah aplikasi berbagai kemampuan – seperti otentikasi pengguna, sebuah sistem pengelolaan konten, atau sebuah dashboard admin – langsung ketika pertama digunakan. Rails mempunyai fitur yang sangat banyak sehingga membangunnya terasa seperti mencocokkan berbagai aplikasi mini sekaligus, dan kemudian berusaha semampu Anda untuk membuatnya pas.
Jadi jika tujuan Anda adalah untuk membuat sebuah prototipe berjalan dengan momen menjengkelkan yang paling sedikit dalam waktu singkat, maka Ruby on Rails bisa menjadi pilihan Anda. Untuk pembelajaran lanjutan, simak video dari Michael Cheng, developer PHP berbasis di Singapura yang baru-baru ini belajar Ruby on Rails.

Atur ekspektasi

Tergantung pada tujuan Anda, mencapai posisi dimana Anda menjadi produktif berkat codingakan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Jika Anda merupakan bagian dari sebuah startup dan Anda ingin berkontribusi dengan melakukan coding front-end, belajar HTML, CSS, dan Git sudah lebih dari cukup dan dapat dipelajari dalam hitungan minggu. Jika Anda seorang calon entrepreneur yang ingin membangun sebuah aplikasi web, belajar ketrampilan yang dibutuhkan dapat memakan waktu berbulan-bulan tergantung dari niat Anda untuk belajar. Jadi mungkin Anda dapat melihat diri Anda sendiri menggali-gali dalam kegelapan sebelum akhirnya menemukan jalan keluar.
Hanya dua buah pikiran lagi yang ingin saya bagikan:

Programming hanyalah sebuah alat

Hal yang mengganggu saya mengenai perjalanan ini adalah apakah waktu saya lebih baik digunakan untuk hal lainnya, seperti belajar kemampuan manajemen, prinsip desain, bagaimana cara membuat mockup yang baik, atau bagaimana menjadi seorang jurnalis yang lebih baik.
Ini merupakan hal penting yang harus ditanyakan sebelum Anda memulai, meskipun saya belum mempunyai jawaban pasti bagi diri saya sendiri. Meskipun sudah belajar selama dua tahun, mungkin nantinya saya akan merasa jalan ini tidak sesuai dengan tujuan saya lagi.
Anggap Anda adalah seorang CEO startup dengan waktu yang terbatas. Belajar programming mungkin kurang produktif untuk perusahaan Anda ketimbang belajar desain user experience,user testing, analisa data, dan keterampilan lainnya yang tidak dimiliki para developer. Pada akhirnya, programming hanyalah sebuah alat untuk membuat sebuah produk yang sukses.

Percaya pada skenario tidak-ada-yang-kalah

Secara alami saya menghindari risiko, jadi salah satu taktik yang saya gunakan untuk memulai adalah dengan memikirkan rencana B. Saya bertanya pada diri saya sendiri: apa yang terjadi jika saya menyerah dan gagal menciptakan sebuah aplikasi web? Saya menjawab:
“Setidaknya saya mengalami seperti apa rasanya.”
“Setidaknya saya mengetahui bahwa bidang ini bukan untuk saya.”
“Setidaknya saya bisa berempati dengan para developer dan bekerja lebih baik dengan mereka.”
“Setidaknya saya bisa lebih berorientasi pada detail dan mendapatkan keterampilanproblem-solving lebih baik.”
“Setidaknya saya bisa menulis mengenai pengalaman saya.”
Ternyata saya bisa mendapatkan manfaat dan menikmatinya juga.
(Diedit oleh T. R. Husada, Enricko Lukman, dan Lina Noviandari)

0 komentar:

Posting Komentar